peretasan

Trend Peretasan Tahun Ini

Posted on

Pertengahan tahun ini kita banyak mendengar dan membaca tentang peretasan. Secara makna, peretasan adalah sebuah tindakan mempelajari, menganalisis, memodifikasi, menerobos masuk ke dalam komputer dan jaringan komputer, baik untuk keuntungan atau dimotivasi oleh tantangan tertentu. Mini riset ini berusaha untuk menjelaskan sedikit tentang berita atau obrolan terkait peretasan di Indonesia.

Kata “peretasan” di Twitter (per 1 Januari 2020 – 31 Mei 2020) mencapai puncak-hingga tulisan ini dipublikasikan-pada 23 April 2020 karena terkait peristiwa yang dialami oleh Ravio Patra (RP). Saya tidak akan membahas kasus tersebut, karena itu bukanlaj tujuan dari mini riset ini.

jumlah posting peretasan
Jumlah posting peretasan Januari Hingga Mei 2020

Setelah eskalasi penggunaan yang tinggi pada bulan Mei,  penggunaan kata itu menurun. Namun kata peretasan tersebut kembali muncul  seiring dengan peristiwa atau kasus baru yang terjadi pada Tokopedia, bukalapak, dan KPU. Dari kurva berikut, dapat terlihat  trend penggunaan kata bergejolak:

user penyuara peretasan
Akun Twitter penyuara peretasan

Selama periode penarikan data, terlihat beberapa akun dominan yang banyak “bersuara” terkait peretasan. Mayoritas akun adalah akun media nasional.

Namun, ternyata top akun yang hobi mencuit tentang kata ini adalah akun news atau berita tentang keamanan cyber, yang tidak mempunyai banyak pengikut. Bahkan, dua akun dengan suara tertinggi, mempunyai cuitannya yang hampir serupa. Atau mungkin memang kloningan?

Yang jelas, isu peretasan dapat menjadi menjadi sebuah bahan berita. Ada yang tertarik membuat kanal keamanan cyber?

Dalam kasus peretasan ini, ada beberapa klaster, dari kelompok aktivis (pada kasus RP), pemerhati sekuriti cyber, hingga kelompok masyarakat yang meminta aksi pemerintah melalui @kemkominfo  dan aparat terkait perlindungan data warganya (pada kasus Tokopedia, BL dan KPU).

klaster penyebaran peretasan
Jejaring akun pengusung petisi penuntasan kasus RP

Dan ada data yang bisa terbilang lucu. Entah sengaja atau tidak, ada sebuah klaster besar yang mendominasi jejaring informasi ini. Klaster tersebut terkait dengan petisi untuk menuntaskan kasus RP. Kasus RP gak lucu (serius!), yang lucu  kenapa klaster ini me-mention sebuah akun milik polisi yang tidak/jarang aktif? Pesan yang dapat diambil dari klaster ini adalah jangan asal RT, lalu coba baca dan cek kebenaran sebuah informasi dulu.

Baca juga :  Siapkah Indonesia Menghadapi Virus Corona

Beberapa hal lain yang dapat diambil kesimpulannya adalah isu peretasan terhadap pribadi dan data publik kini telah menjadi sorotan. Tentu ini menjadi pekerjaan rumah untuk aparat dan instansi terkait agar melakukan tindakan yang perlu. Apalagi, kini semua serba digital, sehingga perlindungan data digital pun penting. Pengungkapan kasus dan tindakan preventif harus segera dilakukan. Instansi terkait tidak cukup dengan hanya meneriakkan tentang edukasi perlindungan data diri saja. Tapi juga harus berusaha untuk melindungi data warga negaranya, khususnya untuk data yang sudah tercuri/diretas.