tengkar konser amal corona

Tengkar Komentar Konser Amal

Posted on

Covid-19 semakin mempopulerkan konser amal sebagai bentuk upaya membangun solidaritas sosial di negeri ini. Dengan menghadirkan artis-artis ternama–dan tentu saja punya massa, konser-konser amal digelar sebagai upaya menciptakan rasa senasib. Selain itu, bisa juga menjadi usaha saling membantu di tengah gempuran pandemi Covid-19.

Namanya juga usaha. Kadang sesuai harapan, tak jarang juga mengecewakan. Ada konser yang sukses, tapi ada juga yang berakhir “biasa saja”.

Ukuran sukses atau tidak terkait konser amal ini saya sederhanakan saja. Yang pertama tentu dari pundi-pundi rupiah yang berhasil dikumpulkan. Namanya juga konser amal, terkumpulnya dana besar tentu menjadi sebuah pencapaian. Tanpa terkumpulnya “hasil amal’ yang memadai–apalagi sampai tekor, tentu bikin meriang. Ukuran kesuksesan lainnya adalah publikasi dan komentar positif yang berkembang–terutama di jejaring internet dan medsos, terkait penyelenggaraan sebuah konser.

Sebagai metode mengumpulkan dana, beberapa konser berhasil mengumpulkan dana cukup besar. Konser amal dengan artis Didi Kempot (almarhum) yang berlangsung selama tiga jam misalnya, ternyata berhasil mengumpulkan sumbangan sebesar Rp7,3 miliar. Konser ini juga mendapat animo dari banyak kalangan. Merujuk dua ukuran sederhana tentang kesuksesan sebuah konser amal (versi saya) yang sudah diisebutkan di atas, secara umum bisalah konser Didi Kempot ini disebut sukses.

Baru-baru ini, sebuah konser amal (dengan tema Covid-19 juga) diselenggarakan oleh sebuah lembaga. Tentunya konser besar ini juga membutuhkan biaya tertentu (saya nggak menemukan angkanya) dan didukung oleh kolaborasi artis juga beberapa birokrat.

Sejak awal, konser ini menimbulkan pro dan kontra. Mendapat dukungan karena ini memang diniatkan untuk menggalang dana amal–sebuah niat yang baik. Namun, mendapatkan sikap kontra juga dari beberapa kalangan. Terutama karena format penyelenggaraan konser dan kebijakan yang dirasa tidak tepat. Sebagai informasi, konser ini tak hanya ditayangkan di beberapa tv nasional, tapi juga di saluran Youtube milik sebuah institusi penanggulangan bencana.

Baca juga :  Referendum Rusia untuk Perubahan Konstitusi

word count youtube konser amal

Saat ditayangkan di channel Youtube, adu opini di fitur komentar pun tak bisa dihindarkan. Pihak yang pro maupun yang kontra menimbulkan ‘keriuhan’ tersendiri selama berlangsungnya konser, hingga beberapa hari kemudian.

Menelisik deretan komentar, hampir semua opini yang mendapatkan atensi lebih dari komentator lain adalah terkait ketidaksetujuan bahkan ketidaksukaan atas berlangsungnya konser. Alasannya beragam dan kental dengan berbagai pandangan, seperti politik, keagamaan, pelanggaran kebijakan, dan banyak lainnya.

Tak ayal, setelah ditayangkan, video konser yang telah dilihat lebih dari 80 ribu kali ini hanya mendapat 329 like dan diganjar lebih dari 8 ribu dislike (per 24/05). Benar-benar angka yang tidak seimbang. Dengan menggunakan teknik data crawl, dapat diketahui juga kalau setidaknya terdapat 1.413 komentator terlibat yang menghasilkan 1.706 komentar. Saya menyortir 10 komentar yang paling banyak mendapatkan feedback dalam bentuk like. Dan seperti yang  sudah dipaparkan di paragraf sebelumnya, isinya berupa komentar bernada miring. Secara kuantitatif sederhana berdasarkan frekuensi penggunaan, dua kata yang paling banyak ditulis adalah “konser” dan “dislike”.

stastik video konser amal-di-youtube

Saya tak terlalu paham berapa tepatnya angka rupiah yang berhasil dikumpulkan dari konser amal ini. Namun terkait angka hasil konser amal, lagi-lagi konser ini mengundang komentar kurang positif dari warga, khususnya akibat insiden di lelang motor listrik. Lelang motor yang mestinya menjadi bagian pengumpulan dana itu ternyata dimenangkan warga yang secara kapasitas kurang memadai.

Memang, tidak semua konser amal mendapat sambutan positif. Ada banyak faktor, seperti siapa, kapan diadakan, dan bagaimana bentuk acaranya yan& akan menjadi perhatian publik.

Memperhatikan data statistik, nominal hasil konser, opini publik yang muncul terkait konser, serta ‘dua alat ukur sederhana’ tentang suksesnya sebuah konser amal, tentu bisa mengira-ngira kan, konser ini termasuk yang mana?

Baca juga :  Menebak Arah Kemarahan Jokowi

Terlepas dari apa yang saya tulis, wabah Covid adalah masalah bersama. Mari kita perangi dari yang paling sederhana, yaitu dengan pakai masker dan rajin cuci tangan.

*ini adalah opini pribadi berdasarkan statistik komentar di saluran Youtube BNPB . Tabel komentar sengaja tidak ditampilkan utuh untuk menjaga “stabilitas”

statistik engagement youtube konser amal