Why we hate
Why We Hate, tayang di Discovery mulai 10 Oktober 2019

Mengurai Kebencian Mencari Solusi: Belajar dari Dokumenter “Why We Hate”

Posted on

Aksi demonstrasi, kekacauan hingga kehancuran tidak bisa dilepaskan dari sejarah kehidupan manusia. Kasus George Floyd adalah salah satu yang terbaru. Kematian setelah penangkapannya memercikkan kembali aksi demonstrasi di seluruh penjuru Amerika Serikat. Tidak hanya di Negeri Paman Sam itu, bahkan negara-negara lain juga ikut menyuarakan ketidakadilan yang terjadi, khususnya pada orang dengan kulit berwarna (hitam). Mengusung tagar #blacklivesmatter, aksi demonstrasi tersebut mencoba menyuarakan penindasan sistematis yang banyak diterima oleh warga kulit hitam di AS.

Menilik aksi demonstrasi dan ketidakadilan yang muncul, saluran televisi Discovery pernah menayangkan dokumenter dengan judul “Why We Hate” atau yang disingkat WWH. Dokumenter ini berusaha mengurai akar, aksi, hingga solusi atas kebencian yang ada di muka bumi. Menggunakan pendekatan sains, dokumenter tersebut menyajikan ilmuwan dan tokoh ahli yang cukup lama berkecimpung di bidangnya dalam membongkar kebencian.

Origins

Mempunyai enam seri, WWH awalnya berusaha menjelaskan asal kemunculan kebencian yang  dilanjutkan dengan implikasinya pada kehidupan manusia. Sesi pertama berjudul THE ORIGINS OF HATE menceritakan tentang evolusi manusia yang menganggap ancaman sebagai mekanisme bertahan hidup. Ancaman kemudian diyakini sebagai kepercayaan dan sebuah mekanisme pertahanan yang menimbulkan ketakutan dan kebencian. Salah satu pemicu kemunculannya adalah ketersediaan sumber daya.

Understanding Tribalism

UNDERSTANDING TRIBALISM merupakan seri kedua WWH. Sesi ini menguraikan tentang tribalism, yaitu perasaan mencintai pada sebuah kelompok yang dapat menggiring seseorang bahkan seluruh kelompok tersebut untuk membenci orang lain. Kecintaan dan rasa memiliki itu membentuk masyarakat lebih berpikir pada kebiasaan kelompok dan menolak perspektif lain.

Tools & Tactic

Seri ketiga adalah TOOLS AND TACTICS TO COUNTER HATE. Disinformasi dan penggunaan teknologi adalah bentuk atau taktik dalam melanggengkan kebencian. Pada sesi ini penonton disajikan tentang penggunaan teknologi sebagai strategi menciptakan dan memupuk kebencian antar kelompok. Media sosial sebagai sebuah platform yang booming di jagat maya juga menyumbangkan penebar kebencian yang dikomandoi oleh tokoh-tokoh besar bahkan institusi negara.

Extremism & Crimes Against Humanity

Tidak hanya menguraikan, dokumenter WWH juga mendokumentasikan usaha manusia dalam melawan kebencian yang merusak. Dalam seri HOW TO FIGHT EXTREMISM dan BATTLING CRIMES AGAINST HUMANITY, diceritakan perlawanan terhadap kebencian dapat dilakukan secara mandiri hingga institusi internasional. Melawan kebencian dapat dilakukan tanpa menggunakan kekerasan. Di mana memahami dan berbaik budi dapat menjadi alat utama dalam mematahkan ideologi kebencian. Peran pengadilan internasional juga cukup signifikan dalam memberantas kebencian yang melibatkan tokoh-tokoh besar di suatu negara.

Hope

Seri WWH ditutup dengan TURNING HATE INTO HOPE. Memakai pendekatan sains, dokumenter ini menawarkan serangkaian aksi untuk meredam kebencian. Dengan menjadikan seorang individu untuk menyebarkan kebaikan dan permintaan maaf, mengikis kebencian lebih mudah dilakukan. Bantuan teknologi juga dirasakan perlu untuk memerangi informasi yang menyesatkan.

Meskipun mungkin tidak 100 persen bisa diterapkan dalam sebuah peristiwa, pendekatan WWH dapat dijadikan metode sederhana dalam menganalisa sebuah peristiwa. Rasisme, perseteruan antar agama, hingga konflik kesukuan yang berakar pada kebencian dapat dibedah lebih detail terkait asal muasal tokoh, penyebaran, hingga solusinya bisa dimunculkan.

Kelebihan lain dari dokumenter WWH adalah film ini menayangkan footage dokumentasi “rare” atau bahkan “very rare” dari sebuah peristiwa besar. Sebut saja cuplikan peristiwa Rwanda, Myanmar, hingga Nazi yang cukup sadis tergambar jelas di film ini.

Selamat menonton dan semoga kita selalu dihindarkan dari kebencian yang dapat merusak.