kemarahan jokowi

Menebak Arah Kemarahan Jokowi

Posted on

Manusia marah wajar saja, begitu pula dengan Jokowi, Presiden ke-7 Republik Indonesia . Beberapa waktu yang lalu, saluran YouTube Sekretariat Negara merilis sebuah video dengan durasi 10 menitan ke publik. Video tersebut menggambarkan Jokowi yang “marah” kepada para hulubalangnya, yakni menteri-menteri yang bertugas sebagai pembantu Presiden.

Dalam video tersebut, Jokowi menyampaikan bahwa para bawahannya tidak bekerja secara maksimal selama tiga bulan belakangan. Dalam suasana pandemi yang kritis sekarang ini, kinerja bawahannya tidak sesuai dengan ekspektasi. Kekurangan di sana sini dan lambatnya kinerja menjadi isi utama dalam pidatonya.

Kurangnya sense of crisis

Sense of crisis ialah salah satu kalimat yang sering diulang Jokowi. Apa sebenarnya sense of crisis itu? Sederhananya, sense of crisis dapat diartikan sebagai kepekaan terhadap sebuah suasana atau peristiwa yang terjadi dalam suatu tatanan sosial. Kepekaan dalam konteks pidato Jokowi adalah terkait kebijakan dan tindakan para pembantunya dalam menghadapi “serangan” virus covid sejak diumumkan pasien penderita covid pertama kali di awal Maret. Kegusaran Jokowi juga dipertegas dengan “hanya” kebijakan biasa yang telah diambil oleh para menteri. Lambatnya gerakan kementerian dirasa Jokowi terlalu “kebangetan”, bahkan dirinya merasa siap mengeluarkan Perppu atau Perpres bila menteri memintanya.  Salah satu bagian yang menohok dari Jokowi ialah jangan sampai hal yang dilakukan dalam menghadapi covid nantinya terlambat dan sia-sia belaka.

Ancaman minus dan rendahnya penyerapan

Di awal pidatonya, Jokowi menjabarkan angka-angka prediksi yang dikeluarkan oleh Bank Dunia. Pertumbuhan ekonomi diprediksi turun hingga 7,6 persen. Minusnya pertumbuhan ekonomi juga diprediksi di berbagai negara. Bank Dunia memproyeksikan, perekonomian Indonesia akan stagnan alias tidak bergerak di angka 0 persen. Tentunya angka ini berkebalikan dengan angka tahun lalu sebesar 5,6 persen. Ekonomi Indonesia akan stagnan bahkan bisa minus apabila tidak ada aksi nyata ekonomi.

Baca juga :  Siapkah Indonesia Menghadapi Virus Corona

Perputaran uang selama wabah Covid 19 memang sangat terdampak. Jokowi mewanti-wanti para menteri untuk memaksimalkan anggaran yang telah dimiliki. Salah satu Kementerian yang menjadi sorotan adalah Kementerian Kesehatan. Kemenkes mempunyai anggaran sebesar 75 triliun rupiah dan hanya menyerap 1,53 persen. Terhadap hal ini nampak kejengkelan Jokowi, khususnya yang berkaitan dengan pembayaran tunjangan dokter, tenaga medis, serta belanja-belanja peralatan kesehatan. Alokasi dan sebaran bantuan sosial juga menjadi perhatian. Asumsi yang dapat dibaca dari rendahnya penyerapan dan proyeksi ekonomi minus, Jokowi berharap perputaran uang dan aktivitas ekonomi harus segera digiatkan melalui kebijakan di tiap Kementerian.

Menebak kemarahan Jokowi

Banyak para ahli kebijakan berusaha menebak arah kemarahan Jokowi. Dalam tekanan ekonomi dan lambatnya kinerja menteri, hampir semua menebak perombakan kabinet akan segera dilakukan. Pernyataan nyata yang diungkapkan Jokowi adalah akan mempertaruhkan reputasi politiknya untuk hal terbaik dalam menghadapi situasi. Langkah-langkah extraordinary menjadi kata yang paling sering diulang oleh Presiden yang berasal dari Solo ini. Kira-kira apakah benar Jokowi akan merombak kabinetnya? Kalau benar, siapa yang layak untuk diganti?