Connect with us

Politics

JOKOWI, RUNTUHNYA NEGARA “COPAS” DAN “LATAH” INFRASTRUKTUR

Salah satu diantara puluhan sebab dibaliknya mangkraknya pembangunan infrastruktur dan runtuhnya sistem negara reformasi, lantaran keduanya dibangun ber-basis “latah”. “Sindrom latah” memang sedang menjangkit para pemimpin dan elite bangsa kita.

Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi ketiga, “latah” mengandung pengertian diantaranya adalah: “pertama, menderita sakit saraf dengan suka meniru-niru perbuatan atau ucapan orang lain. Kedua, meniru-niru sikap, perbuatan, atau kebiasaan orang lain atau bangsa lain”.

Mengacu pada pengertian tersebut, maka “sindrom latah” yang kami maksudkan di dalam catatan ini adalah sebuah “kelainan perilaku sosial” yang dicirikan oleh perilaku mem-beo, ingin meniru atau men-copas setiap kemajuan, baik kemajuan dalam bentuk infrastruktur maupun kemajuan dalam sistem bernegara, seperti kemajuan demokrasi yang sedang dicapai oleh bangsa lain.

Bahaya dari sindrom latah yang sedang menjangkit para pemimpin dan elite bangsa kita, diantaranya: Pertama, dapat menyebabkan lahirnya setiap rumusan kebijakan negara yang tanpa didahului oleh riset dan perencanaan yang utuh dan matang.

Kedua, dapat menyebabkan lahirnya setiap kebijakan negara yang tanpa didahului oleh pengkajian terkait kompatibelitas antara satu aspek kebijakan dengan aspek yang lain, baik aspek fisik maupun aspek non fisik.

Tidak kompatibelnya sebuah kebijakan dapat mengakibatkan terjadinya tumpang tindih kewenangan struktural antara setiap lembaga negara. Demikian juga akan terjadi tumpang tindih fungsi dari infrastruktur yang dibangun.

Bahkan, dampak dari tidak kompatibel nya struktur negara dengan kultur yang hidup di dalam masyarakat, dapat berakibat pada terjadinya kontraksi sosial dan politik. Struktur negara didesign liberalitik dan individualistik dipastikan akan mengalami kontraksi ketika dipaksakan berjalan di atas kultur masyarakat yang hidup dengan kebersamaan, kerjasama dan kekeluargaan.

Akibat yang lebih buruk lainnya dari tidak kompatibel nya struktur negara adalah terciptanya keadaan yang saling memangsa (kanibalisme) antara satu lembaga dengan lembaga lain, misalnya saling mangsa antara KPK dengan Polri. Dalam kasus pembangunan infrastruktur, akan terjadi situasi saling memangsa antara dua bentuk infrastruktur yang mempunyai kesamaan fungsi dan tujuan, misalnya KRL Jakarta Bogor yang telah sekian lama beroperasi versus LRT Jakarta Bogor yang sedang dibangun.

Namanya juga sedang mengidap sindrom latah, kita selalu silau dan “lapar mata” ketika melihat, membaca dan mendengar kemajuan demokrasi yang dicapai bangsa barat. Kita juga silau dan “lapar mata” menyaksikan kemajuan infrastruktur yang dicapai oleh bangsa China.

Kita lalu men-copas model pembangunan infrastruktur di China tersebut untuk dijalankan di negeri kita, tanpa melihat keadaan lingkungan bangsa kita, tanpa perencanaan yang terintegrasi dengan mempertimbangkan kemampuan dan kebutuhan. Sebelumnya kita juga men-copas sistem demokrasi liberal dari barat yang sangat bertentangan dengan sejarah dan tardisi panjang bangsa kita.

Namanya juga sedang latah, kita ingin men-copas seluruh kemajuan yang sedang dicapai oleh bangsa lain untuk dapat kita wujudkan dalam waktu yang sekejap, tanpa mempertimbangkan bahwa setiap kebijakan mesti dijalankan secara bertahap, dengan melihat kemampuan dan kebutuhan yang berkembang secara bertahap.

Namanya juga latah, kita ingin meniru seluruh keberhasilan demokrasi liberal yang dicapai bangsa lain, tanpa mempertimbangkan keadaan lingkungan, sejarah, budaya dan tradisi yang hidup dan melekat di dalam jiwa dan raga bangsa kita.

Bahaya dari sindrom latah tersebut membuat mata kita menjadi buta, telinga menjadi tuli, untuk tak mau lagi mendengar, melihat dan membaca sebab dari kemajuan yang telah dicapai oleh bangsa lain.

Kita menutup mata dan telinga kita untuk tak lagi menengok sejarah panjang, jatuh bangun dari setiap bangsa-bangsa besar dalam mencapai kemajuan peradabannya. Bukankah baik bangsa-bangsa di barat maupun bangsa China, mereka menjadi bangsa besar dengan melewati tahap yang panjang dan terjal. Mereka mempunyai lingkungan, sejarah dan filosofi nya sendiri yang berbeda dengan bangsa kita.

Sindrom latah membuat kita terlihat sangat “maniak” membangun, tapi kita tak punya kemampuan untuk menata. Drama pembangunan infrastruktur terlihat di mana-mana, bangun jalan tol, bangun MRT, LRT, tol laut, dll. tapi tak terlihat adanya penataan. Tata ruang dan kewilayahan kita abaikan, AMDAL yang menjadi syarat dalam setiap pembangunan dibuang ke keranjang sampah.

Sindrom latah membuat kita selalu merasa kekurangan lembaga negara dan kekurangan kewenangan. Kita lalu membangun struktur politik, membuat lembaga baru, menambah tumpukan kewenangan, tapi tak ada penataan dalam sistem bernegara. Akibatnya terjadi tumpang tindih fungsi dan kewenangan antara lembaga negara, juga tumpang tindih aturan.

Bayangkan saja jika Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa itu menciptakan manusia, tapi tak disertai oleh seni dalam menata, maka otak yang tempatnya mesti diletakan di dalam batok kepala, bisa saja diletakkan di dengkul. Bayangkan saja jika tempat kita membuang kotoran justru diletakan di mulut kita.

Bukankah untuk membangun rumah saja butuh feng shui dalam penataan tata letak dan tata ruang, agar terjadi harmoni antara manusia dengan alam semesta. Bukankah dalam membangun rumah saja kita seni agar terlihat indah, tidak gersang dipandang.

Kenapa untuk membangun sistem negara dan infrastruktur, justru kita tidak memperhatikan aspek penataan dan seni? Bahkan tidak ada feng shui dalam membangun infrastruktur sebagaimana di saat kita membangun rumah?

Perhatikan pembangunan infrastruktur di perkotaan, tak ada sama sekali seni. Ibu kota negara misalnya justru makin terlihat gersang di era pembangunan infrastruktur, tak ada sama sekali seni dan budaya sejumlah produk infrastruktur tersebut, yang penting terlihat ada pembangunan.

Bahkan, semakin banyak ruas jalan dibangun di Ibu Kota, tapi kemacetan justru semakin parah terjadi, lantaran pembangunan ruas jalan tak disertai penataan ruang, tidak mempertimbangkan AMDAL lalulintas dalam setiap pembangunan ruas jalan.

Bukankah aspek penataan dan seni adalah cermin dari kemajuan sebuah peradaban? Sebuah bangsa dikenang peradabannya bukan karena banyaknya pembangunan infrastruktur. Peradaban itu dicirikan diantaranya ketinggian budaya dan seni yang hidup di dalam bangsa tersebut, yaitu tinggi nilai-nilai yang merlandaskan Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi dan keadilan.

Kembali kepada sindrom latah, jika kita cermati lebih dalam, sesungguhnya adalah cermin dari “mentalitas inlander”. Kita adalah bangsa yang mengalami krisis kepribadian yang sangat akut, para pemimpinnya tak mampu berpikir mandiri, hingga harus men-copas cara bangsa lain membangun peradabannya.

Ketika kita telah terbiasa meniru bangsa lain, berbuat dan bertingkah laku seperti bangsa lain, maka bangsa kita telah kehilangan daya untuk mencipta, dan jatuh dalam kejumudan menjadi follower peradaban bangsa lain.

Kini kita telah menuai akibat dari ke-latah-an kita men-copas demokrasli leberal dari barat, yaitu ambruknya negara reformasi yang diperkirakan terjadi tahun 2019. Kini kita juga menanti dengan pasti, bakal mangkraknya sejumlah projek infrastruktur, akibat dari ke-latah-an pemerintahan Joko Widodo dalam men-copas model pembangunan infrastruktur dari China. (Haris Rusly Moti)

*Artikel di atas diposting pada bulan Maret 2018. Tulisan di atas kembali diangkat karena komentar JK terkait LRT yang biayanya dianggap terlalu mahal. 500 milyar per satu km.

Continue Reading
You may also like...

Quis autem vel eum iure reprehenderit qui in ea voluptate velit esse quam nihil molestiae consequatur, vel illum qui dolorem eum fugiat quo voluptas nulla pariatur.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Politics

To Top